Senin, 06 Februari 2012

Menyiapkan Anak Cemerlang Melalui Permainan Ular Tangga




Dalam era Globalisasi saat ini, Negara-negara dituntut untuk dapat mempersiapkan generasi-generasi yang siap bersaing dalam persaingan yang ketat antar Negara-negara. Negara yang menang, adalah Negara yang kuat dan dapat bertahan dalam persaingan dan Negara yang dapat bersaing adalah Negara yang kuat dan Negara yang kuat adalah Negara yang memiliki generasi penerus yang terus meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya. Semua dapat diawali dengan mempersiapkan anak-anak dalam memaksimalkan perkembangn mereka . Dalam mempersiapkan seorang anak cemerlang yang siap bersaing dengan persaingan global, dibutuhkan perhatian lebih terhadap perkembangan kognitif, emosi, motorik, social-moral dan bahasa. Pengembangan kelima aspek perkembangan tersebut dapat dimaksimalkan melalui serangkaian permainan yang telah kita kenal seperti permainan Ular Tangga. Dalam bermain, anak dapat mengembangkan otot kasar dan halus, meningkatkan penalaran, dan memahami keberanaan lingkungannya, membentuk daya imajinasi, daya fantasi, dan kreativitas. Berikut kajian Lima aspek perkembangan anak dalam permainan Ular Tangga.

Pekembangan Kognitif
Kemampuan kognitif seorang anak akan mempengaruhi kondisi emosi anak tersebut. Kemampuan kognitif dalam hal ini adalah kemampuan memaknai suatu peristiwa dan menimbulka kondisi emosi yang berbeda-beda. Dalam permainan Ular Tangga perkembangan kognitif berkembang pada tahap Operational concrete dimana anak belajar menghitung dadu-dadu yang dilempar, kemudian mengaplikasikan hitungan tersebut dalam langkah pion-pionnya. Selain itu anak mulai mengembangkan pemahaman mengenai objek seperti ular dalam petak permainan dipahami sebagai pertanda buruk dimana ular akan membuat anak jauh terlempar setelah melakukan perjalanan yang panjang kembali ke tempat yang telah dilewati sebelumnya, dan tangga dipahami sebagai pertanda baik atau hadiah, dimana ketika anak melihat tangga ia akan mengerti bahwa ia akan jauh melangkah lebih cepat menuju finish. Secara tidak langsung anak telah mengembangkan kemampuan imajinasi dan pemahaman simbulisasi serta kemampuan hitung mereka melalui permainan ini. Dalam permainan ini juga ditentukan jalan yang harus dilalui dengan urutan 1—100 sehingga anak lebih banyak belajar dan mengembangkan konsep angka. Selain itu, berkembang pula konsep-konsep dasar  tentang warna, ukuran, bentuk, arah, besaran, dan sebagainya melalui attribut permainan. Konsep dasar ini akan lebih mudah diperoleh anak melalui kegiatan bermain.


Perkembangan Emosi             
Di dalam bermain anak memiliki nilai kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Dengan bermain, anak sebenarnya sedang mempraktekkan keterampilan dan anak mendapatkan kepuasan dalam bermain, yang berarti mengemabngkan dirinya sendiri. Dalam permainan seperti Ular Tangga juga anak akan mendapatkan kepuasan dalam bermain dan berkesempatan mengeksperesikan apa yang ia rasakan. Kondisi emosional anak dalam permainan ini dilatih melalui kesabaran menunggu giliran jalan. Selain itu, anak juga diajarkan bersabar menerima kekecewaan yang daialaminya ketika menemui ular dalam permainan, karena usahanya untuk mencapai finish harus terhambat akibat ular. Bukan hanya kekecewaan yang diperkenalkan tetapi juga rasa puas ketika mendapat atau menemui tangga.
   
Perkembangan Motorik
Dalam permainan Ular Tangga kemampuan motorik yang berkembang secara umum adalah keterampilan motorik kasar seperti menggenggam, meraih pion-pion dan menggerakkannya kearah yang ditentukan. Dalam permainan ini koordinasi kognitif—motorik banyak dilatih. Misalnya saja gerakan menuju posisi yang ditentukan banyak ditentukan kemampuan kognitif seorang anak. Selama ia menggerakkan pion-pionnya ia akan benyak berhitung, sehingga saraf sensoris—motorik sangat banyak terlatih dalam permainan ini.

Perkembangan Sosial-moral
Perkembangan social yang paling umum adalah bahwa anak akan menemui banyak anak yang berbeda dan akan berusaha beradptasi dengan kondisi anak lain dan mengembangkan sikap pertemanan. Dalam bermain Ular Tangga ada serangkaian aturan yang harus dipatuhi dalam bermain seperti sebelum jalan, sebelum jalan anak harus mengocok dadu terlebih dahulu. Adapula aturan lain seperti jika menemukan tangga ia akan naik dan jika menemukan ular ia harus turun. Disinilah anak dilatih untuk bermain jujur dan tidak curang. Jika menemukan menemukan ular, sebaiknya anak melakukan instruksi tanpa harus meakukan kecurangan-kecurangan lagi. Hal-hal kecil seperti aturan bermain ini akan membantu mendisiplinkan anak. Selain itu dalam petak-petak Ular tangga juga terdapat sekumpulan tindakan-tindakan yang memiliki efek positif dan negatif. Seperti pada Ular, jika berada pada petak ular erarti seorang anak melakukan pelanggaran dan pelanggaran tersebut dengan jelas ditulis pada patak ular tersebut. Akibat dari pelanggaran tersebut maka anak akan mendapat hukuman untuk mundur beberapa petak dalam permainan. Semakin besar pelanggaran yang ter tulis dalam petak maka semakin jauh pula anak meninggalkan petak permainan. Jadi jelas dalam permainan ini juga berlaku norma-norma yang disosialisasikan dengan cara yang mudah dipahami anak. Sebagai contoh, dalam petak ular misalnya tertulis “Mengambil Barang Teman” maka akan mendapat sanksi misalnya “Dicubit Ibu Guru” kemudian anak akan meninggalkan petak tersebut, turun ke petak yang sebelumnya dilewati anak sebagai bentuk hukuman. Demikian pula sebaliknya pada tangga, jika berada pada petak tangga, anak akan melihat suatu tindakan mulia yang tertulis dan kemudian akan mendapatkan penghargaan dari apa yang dilakukannya. Misalnya “Membantu Orang Tua” akan mendapat penghargaan “Mendapat mainan Baru” maka anak akan melangkah ke petak selanjutnya lebih cepat untuk mencapai finish sebagai bentuk hadiah. Tanpa disadari, permainan Ular Tangga telah membentuk Perilaku anak melalui Conditionong dengan Prinsip Reward dan punishment.




Perkembangan Bahasa
Dalam  permainan anak akan banyak berinteraksi dengan lawan mainnya. Dalam berinteraksi, anak akan banyak menyerap kata-kata yang dikeluarkan oleh temannya dan akan menyusun kalimat-kalimat tersebut saat kejadian-kejadian tertentu muncul. Bahasa yang baik dalam bermain akan banyak membantu anak untuk mengumpulkan dalam perbendaharaan kata mereka kata-kata yang baik dan benar yang dapat mendukung komunikasi mereka menjadi lebih efektif. Komunikasi yang baik dalam bermain akan membantu anak untuk mengimitasi bentuk komunikasi yang baik di masa yang akan datang.

Yang perlu diperhatikan dalam bermain adalah bahwa orang tua harus ikut turut campurtangan dalam mengawasi permainan anak agar dalam bermain anak lebih terarah dan dapat mencapai tujuan perkembangan yang diharapkan.


















Tinjauan Psikologis
1.      ALIRAN PSIKOANALISIS
A.      SIGMUND FREUD (1856-1939)
Menurut Freud, Mind pada dasarnya dibagi atas kesadaran (conscious) dan ketidaksadaran (unconscious) serta ada pula Prasadar (preunconscious). Manusia berperilaku karena insting seksual  (tidak sadar/unconcious) yang bersumber dari Pleasure atau libido.

kesadaran (conscious), Prasadar (preunconscious), dan ketidaksadaran (unconscious)
Dianalogikan sebagai “Gunung Es”. Unconscious merupakan bagian terpenting dari Mind yang paling sedikit dapat diakses dan merupakan tempat menentukan kekuatan kepribadian. Di sana memori yang telah di repress dari kehidupan awal, sumber kekuatan fisik, dan insting. Preunconscious merupakan jembatan yang memisahkan antara conscious dan unconscious. Di sana dimuat memori dan ide-ide yang dapat selalu siap di recall (ingat). Conscious sendiri hanya berisi sebagian kecil dari Mind, pikiran yang mana seseorang sadar atas setiap momen yang diberikan.

Struktur kepribadian menurut Freud :
-          ID, merupakan struktur kepribadian paling mendasar dari kepribadian. Merupakan bagian dari ketidaksadaran yang menuntut kepuasan untuk diwujudkan
-          EGO (asas kenyataan), merupakan pengembangan dari Id, dan mengontrol kesadaran . Ego menunjukkan aktivitas psikologis, serta mengontrol antara permintaan ID dan SUPEREGO.
-          SUPEREGO (asas moralitas), merupakan kesadaran tertinggi manusia yang terbagi kedalam dua subsistem yaitu Batiniah (conscience) yang terdiri atas hal yang salah dan hal yang tidak boleh dilakukan,  dan Ego-Ideal yang terdiri atas hal yang benar dan besar.

Tahapan perkembangan Psikoseksual :
-          Fase Oral ( 0 - 18 bulan ): Area pusat Kenikmatan Terletak di mulut
-          Fase Anal (18 bulan – 3.5 tahun) : Area pusat kenikmatan terletak di Anus
-          Fase Phalic ( 3 – 5 tahun) : Area pusat kenikmatan terletak pada alat kelamin (genital) serta berkembangnya Oedipus kompleks dan electra kompleks
-          Fase Laten (5/ 6 tahun – 12/13 tahun) : Mulai tertarik kepada lawan Jenis
-          Fase Genital ( masa Dewasa) : Menjalin hubungan cinta dan pernikahan hingga pada keintiman hubungan seksual.

2.      PERKEMBANGAN KOGNITIF
JEAN PIGET (1896—1980) 
Tahapan Perkembangan Kognitif
a.       Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
Proses paling awal dalam hidup, anak belum memiliki konsep mengenai objek, tetapi selama dua tahun pertama hal tersebut mulai berkembang.konsep mengenai objek  dan tempat dihasilkan dari aktvitas penyesuaian dengan dunia. Melalui penyesuaian ini, anak mengakomodasikan dirinya kepada dunia. Anak merubah dirinya menyesuaikan dengan lingkungan. Kognitif berkembang melalui eksplor terhaap dunia melalui persepsi sensori dan keterampilan motorik. Merupakan tahap awal kekurangan permanen objek (memahami benda terus ada bahkan ketika tidak terlihat, terdengar atau pergi).
b.       Tahap Preopersional (2-7 tahun)
Pada periode ini pemikiran logis relative mulai terorganisir. Anak pada fase ini sering bertentangan dengan dirinya sendiri tetapi tidak terganggu dengan pertentangan tersebut. Diikuti dengan perbedaan sudut pandang yang beragam dari anak ke anak. Kemampuan bahasa dan simbolis meningkat , apa yang dilihat dan dirasakan diungkapkan melalui symbol-simbol (bahasa). pada masa ini sifat Egosentrisme terbentuk di mana anak tidak mampu membedakan sudut pandangnya dengan orang lain terhadap sesuatu, semua hal terpusat pada diri si anak, anak menganggap apa yang dirasakannya juga dirasakan orang lain. Selain itu berkembang pula Animisme dimana anak percaya bahwa semua benda hidup dan memiliki maksud, kesadaran dan perasaan.
c.        Tahap operasional konkret (7-12 tahun)
Pada tahap ini, konsep nyata mengenai alam terbentuk. Anak dapat memahami secara detil mengenai atribut-atribut dari objek, dan objek yang sama dimasukkan kedalam lebih dari satu kelas. Anak memahami objek secara konkret dan memahami konsep reversibility dan conservation. Conservation adalah kemampuan untuk mengakui bahwa ukuran kuantitas, berat, atau volume tetap meskipun berubah dalam ukuran, panjang atau posisi.
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
ü  Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling tinggi ke yang paling rendah.
ü  Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
ü  Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
ü  Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
ü  Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
ü  Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.


d.       Tahap Operational Formal (12 tahun-dewasa awal)
Pada masa ini anak dapat menyetujui sesuatu yang abstrak menjadi lebih nyata dan pemikiran tentang sesuatu dapat terbentuk. Anak dapat memberi alasan tentang situasi yang nyata dan khayalan. Pada masa ini konsentrasi terhadap pemikiran merupakan karakter utama. Berkembang pula kemampuan untuk memprtimbangkan sesuatu.


VYGOTSKY  (1896—1934)
Vygotsky mengemukakan teori sosiokultural kognitif dalam perkembangan. Ia  tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri. Tahapan-tahapan dalam perkembangan vagotsky menerima tahap-tahap perkembangan Piaget, namun menolak penekanan pada rangkaian yang ditetapkan secara genetik. Piaget meyakini bahwa perkembangan mendahului pembelajaran, sedangkan Vgotsky meyakini bahwa pembelajaran mendahului perkembangan.
Zona perkembangan Proximal
Zona perkembangan Proximal merupakan istilah yang dikemukakan Vygotsky terhadap jarak tugas yang sulit bagi seorang anak untuk mahir dengan sendirinya tetapi dapat menjadi mahir dengan panduan dan bantuan orang dewasa atau anak berbakat lainnya. Jadi, batas terendah (lower limit) dari ZPD terletak pada level penyelesaian masalah yang dicapai dengan bekerja sendiri. Batas tertinggi  (upper limit)  terletak pada level penambahan rasa tanggung jawab, anak dapat menerima bantuan dari instruktur yand ada. Penekanan Vygotsky terletak pada pengaruh social, khususnya instruksi pada perkembangan kognitif anak. Jadi anak dapat mengalami kematangan dan kemahiran tidak dilakukan sendiri oleh anak, tetapi melalui bantuan orang lain.


Scaffolding
Scaffolding melibatkan perubahan dan level dukungan. Melalui kursus, kemampuan seseorang disetel dengan berbagai macam panduan untuk menuntun anak pada tingkat penampilan saat ini. Ketika tugas belajar siswa masih baru, kemampuan lain mungkin akan digunakan untuk memberikan instruksi langsung. Jika kompetensi anak meningkat, panduan dikurangi.
Bahasa dan berpikir
Anak tidak hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi tetapi juga membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas. Vygotsky lebih jauh berpendapat bahwa anak kecil menggunakan bahasa untuk merencanakan, menuntun, dan memonitor perilaku mereka. Di sini anak menggunakan bahasa sendiri untuk aturan diri yang merupakan sifat egocentric dan ketidakmatagan.
Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran awalnya berkembang sendiri pada masing-masing orang dan kemudian dipadukan. Dia menekankan bahwa semua fungsi mental berasal dari luar atau social. Anak harus mampu berkomunikasi dengan bahasa dengan orang lain sebelum mereka dapat berfokus pada pemikiran mereka sendiri. Anak juga harus nerkmunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa dalam waktu yang lama sacara periodik sebelum sebeum mereka dapat membuat transisi berbicara dari luar ke dalam. Periode transisi ini terjadi antara usia 3 dan 7 tahun dan melibatkan  pembicaraan kepada diri sendiri. Setelah beberapa waktu, berbicara pada diri sendiri alam kedua bagi anak dan mereka dapat melakukannya tanpa berbicara keras. Ketika ini terjadi, anak telah menginternalisasi ucapan egocentric mereka dalam bentuk inner speech, yang mana menjadi pemikiran mereka.
Strategi Mengajar
Teori vygotsky telah banya diterapkan para guru dengan sukses untuk mendidik. Adapun beberapa cara teori vygotsjy yang digunakan dalam ruang kelas:
1.       Menggunakan zona perkembangan proximal anak dalam mengajar. Mengajar dapat dimulai dengan zona batas atas (upper limit), sehingga anak dapat meraih pencapaian dengan bantuan dan bergerak menuju level tertinggi dari keeahlian dan pengetahuan.
2.       Mengguanakn keahlian lain dari teman sebaya sebagai guru. Bukan orang dewasa saja yang penting untuk mengajarkan keahlian kepada anak, tetapi dukungan dari teman sebaya lain yang memiliki keahlian juga dapat membantu menuntun anak pada keahlian lain.
3.       Mengawasi dan menyarankan bahasa pribadi anak. Menyadari bahwa perubahan perkembangan dari berbicara secara eksternal kepada berbicara pada diri sendiri ketika menyelesaikan masalah selama usia prasekolah untuk berbicara dengan dirinya sendiri di awal sekolah dasar.
4.       Menaksir secara efektif ZPD anak. Vygotsky berpendapat bahwa standar uji formal bukan cara yang baik untuk menaksir belajar anak. Vygotsky berpendapat bahwa assessment dapat fokus menentukan zona perkembangan Proximal anak.
5.       Instruksi tempatdalam hubungan yang bermakna. Dunia pendidikan saat ini menekankan peningkatan pada bergerak maju dari prentasi abstrak dari suatu materi untuk menghantarkan pelajar pada kesempatan untuk mengalami belajar yang lebih bermakna.
6.       Transformasi ruang kelas dengan teori Vygotsky. Zona perkembangan proximal merupakan elemen kunci dari program ini. Mungkin anak akan membaca cerita dan kemudian menceritakan makna cerita tersebut. Banyak aktivitas belajar mengambil tempat dalam kelompok kecil. Semua pelajar menghabiskan waktu sekitar 20 menit setiap pagi pada peraturan yang disebut “center one” . dalam konteks ini, scaffolding digunakan untuk meningkatkan kemampuan anak yang berhubungan dengan kesusastraan. Instruktur menanyakan , merespon terhadap pertanyaan siswa dan membangun ide untuk membangkitkan semangat pelajar.




3.      PERKEMBANGAN BAHASA
NOAM CHOMSKY
Chomsky pada dasarnya menentang tiga aspek pendekatan Skinner : (1) Stimulus Control, (2) reinforcing system dan (3) response strength.
 Teori utama skinner adalah : Theory Of Grammar
Chomsky, memberikan kontribusi untuk psikologi kognitif melalui analisis tata bahasa (grammar). Bagi Chomsky, tata bahasa merupakan suatu kumpulan aturan yang memiliki dua fungsi.
(1). Membedakan antara kalimat yang tertata dari rantai kata yang tidak tertata
(2). Mengidentifikasi hubungan ketatabahasaan dalam berbagai macam kelimat.
Tata bahasa terdiri atas kumpulan aturan-aturan yang mengadakan kalimat besar  dengan jalan yang hampir sama seperti axioma di bidang geometri yang digunakan mngkonstruksikan dalil.




4.      PERKEMBANGAN MORAL
KOHLBERG
1.       Tahap Moralitas Prakonvensional
Tahap 1. Kepatuhan dan Orientasi Hukuman,  Pada tahap ini anak-anak memikirkan apa yang benar seperti yang disebut otoritas sebagai kebenaran.
Tahap 2. Individualisme dan pertukaran,  Anak-anak tidak lagi begitu terkesan oleh satu otoritas tunggal; mereka melihat keberadaan sisi-sisi yang berbeda setiap masalah.
2.       Tahap Moralitas Konvensional
Tahap 3. Hubungan-hubungan Antar-pribadi yang baik , menekankan pemahaman menjadi pribadi yang baik.
Tahap 4. Memelihara tatanan sosial, kepedulian ini bergser menuju mematuhi hokum untuk mempertahankan masyarakat secara keseluruhan.
3.       Tahap Moralitas Pasca-Konvensional
Tahap 5. Kontrak Sosial dan Hak-hak Individual, menekankan hak-hak dasar dan proses demokratis yang memberi kesempatan setiap orang untuk mengutarakan pendapatnya.
Tahap 6. Prinsip-prinsip Universal, menentukan prinsip-prinsip dimana sebuah kesepakatan diambil hanya jika paling adil bagi semua pihak.

5.      PERKEMBANGAN EMOSIONAL
-          Emosi adalah reaksi subjektif terhadap sesuatu yang ada di lingkungan (yang dialami oleh individu secara kognitif, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan) yang biasanya muncul dengan disertai oleh perubahan fisiologis dan seringkali diekspresikan dalam bentuk perilaku yang dapat diamati.
-          Senyum & tertawa : ekspresi ini sifatnya masih relfeks pada masa bayi, dan kemunculannya tergantung pada kondisi internal bayi (yang sampai saat ini belum dapat diungkap oleh para peneliti). Senyum adalah tanda adanya kenikmatan yang dirasakan oleh bayi.
-          Pada usia 3-8 minggu, senyum muncul bukan hanya karena faktor internal tapi juga karena faktor eksternal (wajah, suara, sentuhan).
-          Semakin bertambah usia, senyum yang ditampakkan memiliki makna yang berbeda-beda untuk stimulus yang dijumpai.
-          Usia 3 bln, bayi akan tersenyum pada wajah-wajah tertentu saja
-          Usia 4 bln, bayi sudah mampu tertawa. Tertawa memiliki peranan penting dalam interaksi antara caretaker dengan bayi. Pada usia 4-12 bulan, tertawa pada bayi lebih disebabkan oleh adanya stimulasi visual, taktil, auditori, ataupun social-behavioral stimuli : topeng, objek yang menghilang, meniup rambut bayi, bersiul, berbisik, suara binatang, peak a boo, dll. Semakin bertambah usia anak, tertawa yang terjadi lebih disebabkan karena kejadian-kejadian sosial.

Spesifik Emosi pada Awal Kehidupan
Fear : emosi negatif
Fear atau rasa takut yang dimiliki anak berupa takut terhadap hal/orang asing.
  1. Usia 3 bln : bayi takut terhadap situasi (baik yang dikenal maupun tidak) dimana bayi tidak mampu beradaptasi.
  2. Usia 4 bln : bayi masih dapat tersenyum meskipun dengan orang asing.
  3. Usia 5 bln : bayi sudah mampu untuk melihat orang asing dengan lebih cermat dan membedakannya dengan orang yang sudah dikenal.
  4. Usia 6 bln : bayi masih mengamati orang asing dengan cermat dan mulai menampakkan rasa takut.
  5. 6,5 - 9 bln : rasa takut mulai meningkat dan mulai menunjukkan rasa takut yang sebenarnya, pada situasi/orang yang memiliki arti khusus bagi si anak (misalnya melihat wajah yang sama sekali asing).
Rasa Takut pada Anak Usia Sekolah
-          Usia 6-8 tahun
  1. Takut pada sekolah dan guru baru
  2. Takut pada hal-hal khusus (misalnya binatang)
  3. Takut gagal bila melakukan sesuatu
-          Usia 9-12 tahun
  1. Takut nilainya jelek atau tidak lulus
  2. Takut tidak punya teman
  3. Takut pada kejahatan/kriminalitas
  4. Takut dibilang gendut/dibilang jelek
  5. Takut jika bapak dan ibu bercerai
Rasa Takut pada Anak Usia Sekolah
Sebab :
  1. Usia 6-8 tahun
    Adalah masa peralihan dari balita ke kanak-kanak, dari pemikiran yang penuh fantasi menjadi pemikiran logis (anak sd). Sehingga jika menghadapi situasi baru, masih didominasi dengan fantasi dan belum mampu mencari solusi secara logis.
Usia 9-12 tahun
    Ini adalah periode praremaja, dimana anak sudah dapat menyesuaikan diri dengan realita di luar dirinya, sehingga sudah dapat menghadapi masalah yang ada di lingkungan. Ketakutan mengarah pada self esteem dan self pride. Anak sudah kenal dengan kemampuan dirinya dan takut jika tidak mampu menyelesaikan tugas dari lingkungan sesuai dengan harapan lingkungan.
Rasa marah
-          Sudah ada sejak bayi, hanya saja dengan kemampuan yang sangat terbatas rasa marah diekspresikan dengan menangis/rewel
-          Pada masa batita, kemampuan motorik dan bahasa sudah sedikit berkembang sehingga rasa marah dapat diekspresikan dengan gerak/perilaku (menendang, membanting atau berteriak)
-          Masa usia prasekolah, rasa marah diungkapan melakukan perilaku buruk atau kata-kata dengan nada yang tinggi
Emosi pada masa kanak-kanak awal
-          Menurut Hurlock, emosi yang umumnya dimiliki oleh anak pada masa kanak-kanak awal adalah :
  1. Amarah : pertengkaran, tidak tercapainya keinginan atau serangan dari anak lain, rasa frustrasi saat menemui hambatan fisik.
  2. Takut : muncul karena bertambahnya pengetahuan anak tapi belum dapat memilah mana yang harus ditakuti mana yang tidak.
  3. Cemburu : jika anak merasa bahwa cinta dan kasih sayang orangtua beralih pada orang lain.
  4. Iri hati : berhubungan dengan kemampuan atau barang yang dimiliki oleh orang lain.
  5. Sedih : kehilangan sesuatu yang dicintai atau dianggap penting.
  6. Ingin tahu : terhadap hal-hal baru, terhadap tubuh dan orang lain.
  7. Gembira : karena sehat, bunyi yang tiba-tiba, bencana ringan, membohongi orang lain atau berhasil menyelesaikan tugas yang sulit.
  8. Kasih sayang : belajar mencintai orang atau binatang/benda yang menyenangkan. Dinyatakan dengan memeluk, menepuk atau mencium objek dengan kasih sayang.
  9. Malu : penarikan diri saat berhubungan dengan orang lain. Ditunjukkan dengan menangis, memalingkan muka atau bersembunyi di belakang ibu, malas menatap dan malas diajak bicara.
  10. Tidak sabaran : karena anak belum mengerti konsep menunggu. Biasanya didukung oleh adanya rasa capek dan lapar. Ditunjukkan dengan cara berteriak.










DAFTAR PUSTAKA
Huffman, Karen, Mark Vernoy & Judith Vernoy. 2000. Psychology in Action.
New York: John Wiley & Sons, Inc.

SANTROCK, John w.2006. Live Span Development. New York:
McGraw-Hill Companies

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost